Agenda
image

-Membentang makalah dengan judul : Kecerdasan Komunikasi dalam Membangun Harmoni Sosial, dalam Seminar Kebangsaan Kemahiran Insaniah dan Kerja Sosial, di University Teknikal Malaysia Melaka, 23-26 Juli 2009.

Greeting

 

-Selamat menjalankan ibadah Puasa 1430 H, untuk teman-teman UNLA, Pasca UNPAD dan AAFED, semoga dapat meraih kemenangan yang hakiki

Jurnal Dialektika
image

 

 

 

 

Assalamualaikum
image

www.eki-baihaki.com

eki_ikomunla@yahoo.com


Ikatlah ilmu dengan cara menuliskannya (Imam Ali r.a)

Karena..sehebat apapun seseorang akan hilang ditelan zaman, kecuali dia menulis...menulis adalah perjalanan menuju keabadian, ujar Pramudya Anantatoer,
Kata-kata inspiratif
image

Yang terbaik adalah berbuat yang baik dan benar dalam situasi sesulit apapun, namun yang terburuk adalah tidak berbuat apapun yang baik bagi orang lain.

Kutipan Inspiratif
image

 

-Man arafa nafsahu, arafa rabbahu-

"Barang siapa mengenal dirinya, niscaya akan mengenal Tuhannya".


"Tak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula " (Q.S.- Ar-Rahman)

 

"Cinta, satu satunya kekuatan yang mampu mengubah musuh menjadi seorang kawan" -Matin Luther King/Pejuang hak Sipil

 

RSS Feed

Sains Modern : Kontemplasi dan Realita

 

  SAINS  MODERN : KONTEMPLASI DAN REALITA

 

Oleh : Eki Baihaki

 

“… dalam peperangan, ilmu menyebabkan kita saling meracun dan menjegal. Dalam perdamaian dia membuat kita dikejar waktu  dan tak menentu. Mengapa ilmu yang indah ini, yang membuat  hidup kita lebih mudah hanya membawa kebahagian yang

  sedikit sekali kepada kita 

  ( Albert Einstein )

 

Memasuki penghujung abad 20, sains modern yang diagung-agungkan banyak pihak dan dianggap nyaris tanpa cacat  , mulai disadari memiliki banyak kelemahan-kelemahan  sebagaimana  yang dinyatakan, Einstein dalam refleksi kritisnya terhadap pemanfaatan ilmu bagi kehidupan umat manusia  yang ternyata hanya memberikan kebahagian yang sedikit sekali,  dibandingkan dampak kerusakan yang ditimbulkannya  kepada umat manusia

          Tulisan singkat ini (bagian pertama dari dua tulisan)   memcoba untuk mengungkapkan  pandangan-pandangan kritis terhadap sains modern  dari Thomas Kuhn, Richard Tarnas dan Herman Soewardi   Guru Besar Filsafat Ilmu  Pasca Sarjana Unpad, yang  menggambarkan kepada kita bahwa Sains Modern yang “arus pokok” (mainstream) nya barat sentris, memliki sisi-sisi kelemahan   dan kenyataannya tidak mampu memecahkan masalah-masalah kehidupan yang fundamental, maka diperlukan “mainstream” baru yang lebih baik dan benar.

Thomas Kuhn   : Jati diri Sains Modern

Dalam bukunya “The Structure of Scientific Revolution ” (1970) dengan seksama memaparkan bahwa Kemajuan Sains Barat modern (SBM), menurut Kuhn, berjalan tidak dengan kumulatif, melainkan “pindah-pindah” dari satu kelain fundamental, yang merupakan landasan bagi paradigma.

SBM yang berlandasan filsafat positivism itu, yang mencapai “ puncak “ nya ditangan Karl Popper dengan “ falsification test “ nya, mulai goyah  ketika Thomas Kuhn dalam  bukunya memaparkan “ jatidiri “ Sains Barat Modern (SBM)  yang maju secara revolusioner tidak bersifat kumulatif, maju dari satu fundamental ke fundamental lain. Diatas mana bertengger paradigma. Yang diikuti oleh suatu “ normal science “

Normal science inilah yang  digeluti para ilmuwan.yang isinya tak lain adalah pembakuan segala prosedur bagi pekerjaan ilmu itu, baik analisis maupun metoda-metoda  pembuktian ( test ) karna itu pembakuan berarti pembekuan, dan semua ilmuan yang direkrut kebidang itu harus tunduk tanpa reserve. Normal science tak ubahnya seperti sebuah gambar yang dikelilingi oleh sebuah bingkai. Dimana didalam bingkai itu terdapat “ bolong-bolong “ yang kemudian oleh para pekerja sains akan diisi. Karna itu isi-isinya telah ditetapkan (“spelled out”) terlebih dahulu, maka penemuan-penemuan seperti itu tidak bersifat “novel “ ( baru )  ilmuwan yang berkencimpung di dalam sebuah normal science sebenarnya telah dibakukan dan dibekukan, dan meraka merasa bahwa normal science seolah-olah “ netral “

Lebih lanjuti, menurut Kuhn , jadi diri dari SBM , terbukti pada saat terjadi krisis, para ilmuwan akan berlomba mengajukan pemecahan dengan pandangan dan teori/ paradigma mereka  yang tentunya yang paling disenangi yang akan diterima, bukan yang paling benar atau yang paling mampu menerangkan semua gejala secara lebih kompleks

Richard Tarnas : The Crisis of Modern Science

Secara komprehensif Tarnas memaparkan keadaan krisis SBM ( yang di sebutnya sains modern)  dengan argumen-argumennya yang sangat mendasar sehingga sulit dibantah. Uraiannya dapat kita sistimatisir menjadi lima bagian, sebagai berikut :

(1) Empat postulat dasar SBM dibuktikan tak benar ( controverted ), keempat postulat dasarnya adalah : ruang (space), materi (matter), observasi dan kausalitas. Ruang yang awalnya terdiri dari tiga dimensi harus menjadi empat dimensi, maka menjadi ruang waktu. Ternyata ruangpun bertopografi, dan didalam topografi ini jalannya cahaya adalah lengkung, bukan linier. Koordinat Cartesian-newtenian perlu ditambah waktu. Materi yang katanya solid seperti diungkapkan oleh Demokritos , ternyata didalamnya terdapat kehampaan seperti pada atom bohr. Observasi kini diragukan kemantapannya, dan mulai disadari bahwa di depan mata setiap orang ada “lensa” yang di bentuk oleh tata nilai yang di anut, pengalaman, aspirasi, harapan, trauma-trauma, dan sebagainya. Maka setiap orang memiliki “cognitive syndrome”nya sendiri. Adapun kausalitas yang kini berlaku ternyata terlalu simplisistik, sebagai akibat dari observasi yang terbatas kemampuannya (“terpola”)

     Dengan demikian, sebagai akibat dari kesalahan pada empat postulat dasarnya itu terutama observasi dan kausalitas. Maka timbullah kerusakan –kerusakan yang menyeluruh baik pada alam maupun pada masyarakat. Kerusakan pada alam merupakan kerusakan ekologi seperti kontminasi air, udara , tanah, efek buruk berganda pada kehidupan tumbuhan dan hewan, pengrusakan diseluruh bumi. erosi tanah, pengerusakan air tanah, akumulasi limbah-limbah yang toksik, efek rumah kaca yang meningkat, bolong-bolongnya lapisan ozon pada atmosfir, kerusakan keseluruhan ekosistem dari planet ini, yang semunya ini muncul sebagai masalah yang kompleksitasnya yang semakin hari menjadi runyam . ternyata SBM tidak memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri sendiri, meskipun benar bahwa kebenaran saintifik SBS menjadi semakin proporsional. Namun kebenaran SBM selalu dihadapkan kepada ujian-ujian yang dapat dilakukan oleh siapa saja dan dapat dirumuskan secara lebih akurat, dengan segala efek praktisnya di bidang pertanian, kedokteran, produksi energi komunikasi dan tranportasi. Semua itu membuktikan kemampuan SBM untuk menghasilkan pengetahuan yang perguna bagi dunia ini.namun kini SBM menunjukan perkembangan kearah yang antietikal . sehingga akibat praktisnya tidak lagi  selalu dinilai positif.

(2) Terdapat kesalahan epistemologis. Bila kita menukik lebih dalam ternyata dasar – dasar epistemologisnya pun keliru seperti

-          bangkit kembalinya skeptisisme hume, yang oleh Kuhn bila kita menelaah uraiannya ,tampaklah bahwa paradigma baru yang di anut itu bukan yang “ terbenar” menurut standar Popper. Dengan lain perkataan. Semua teori itu mengandung kesalahan.

-          Pandangan tentang jagat raya Kant yang mengatakan bahwa yang tampak kepada kita itu bukan jagat raya yang sebenarnya. Akan tetapi jagat raya yang sebagai mana dipertanyakan oleh orang (observer).

-          Beberapa hal dalam sebab-akibat perlu direvisi. Seperti deterministic Newtonian,”kecerdasan electron” prinsip ketidak pastian (Heisenberg). dan sebagainya.

(3)“ Order” newtonian telah runtuh, namun yang meruntuhkan order ini (seperti           Einstain dan  Heisenberg ).”…..is no order at all”. Kini terbuka bagi siapapun untuk melukiskan order dari jagat raya ini.

(4) Keperilakuan partikel-partikel sub-atomik ternyata terbuka untuk adanya interpretasi spiritual.

(5) Akibat dari segala ini adalah runtuhnya kepercayaan kepada SBM. kini para ilmuwan SBM berada dalam kekalutan atau “kalang-kabut”. Orang barat mulai sadar. Bahwa mereka telah menyingkirkan agama dalam kehidupan mereka dan beralih kepada sains yang penuh dengan kepastian itu. Akan tetapi sekarang ternyata bahwa sains itu juga dirundung oleh prinsip ketidak pastian. Sebagai akibat dari tidak benarnya kemampuan observasi manusia. Maka dalam pandangannya ternyata realisme Aristoteles kini tidak dapat bertahan lagi. Tarnas mengatakan bahwa SBM perlu direevaluasi sepenuh hati. Tapi bagai mana ? kemana SBM akan melangkah selanjutnya ? Tarnas menutup uraiannya tentang krisis SBM itu. Bahwa kini kerusakan – kerusakan itu semakin menggawat, maka segala upaya manusia yang dilandaskan pada perspektif yang sempit bisa berbahaya Camkanlah bahwa manusia ternyata bertengger pada perspektif yang sempit.

Herman Soewardi : Ihtiar Mempersiapkan Kelahiran Sains Tauhidullah

          Dalam pandangan Herman Soewardi .  sejalan dengan pandangan Kuhn dan Tarnas menyatakan SBM ( dalam istilahnya adalah Sains Barat Sekuler) ahirnya menjurus kepada  3-R. ialah Resah Renggut. Rusak. Resah ialah orangnya. Renggut perenggutan negara-negara berkembang oleh negara-negara maju, dan rusak adalah kerusakan alam yang menyeluruh.

Resah: sifat resah orang-orang barat. Atau “insecurity feeling “seperti dikatakan oleh Eric Fromm, bukan merupakan sifat “ intrinsic “. Akan tetapi merupakan akibat dan pandangan dan sepak terjang masyarakat barat itu sendiri. Eric Fromm menguraikan bahwa dasar bagi terjadinya sifat ini berpokok pangkal pada “freedom” yang merupakan acuan individu dan masyarakat namun suatu kebebasan yang “menyebelah” secara psikologis ia juga “submissiveness” sama-sama diperlukan. Kebebasan atau freedom yang menyebelah ini lama kelamaan menjadikan mereka tidak tahan (“unbearable”) mengahadapinya, maka mereka pun minggat dari kebebasan itu. Dalam tiga bentuk : sadism, masochism, dan automation itu. (lihat fromm “Escape from freedom”. 1941).selanjutnya “ feeling of insecurity”ini menjadikan mereka bergulat sungguh-sungguh agar bisa menguasai segala yang mereka perlukan sebanyak-banyaknya. Namun kata Fromm, semua  orang barat begitu. Maka mereka mau tidak mau harus berkompetisi secara ketat dengan sesama mereka. Maka menjelmalah masyarakat barat sebagai masyarakat konflik. Kemudian, dalam bukunya lainnya yang berjudul “ the sane society” (1952), ia melanjutkan bahwa sifat resah ini dianggap sifat yang “normal”, atau orang barat itu normalnya pada keadaan resah yang disebut “pathologi of normalcy”.

          Lebih lanjut Herman   membandingkan antara masyarakat barat dan masyarakat muslim, Surat Al-Hujurat ayat 10 memerintahkan persaudaraan (Ukhuwwah). Persaudaraan adalah kebalikan dari konflik dan konflik ini pasti berlatar belakang pada nafsu amarah (Q. Yusuf : 53), atau jiwa yang mudah sekali dibawah kearah kejahatan  inilah sifat “normal”  Masyarakat barat, yang membawa mereka kearah keserakahan dan pelimpahan hawa nafsu atau hedonisme suatu kehidupan yang tidak ada puas-puasnya seperti dikatakan oleh Marshall. “Variety is the spice of life” ( lihat Lutz dan Lux. 1979.)

          Renggut, adalah perenggutan (defrifation) SDA di negara-negara berkembang oleh negara-negara maju, kini terjadilah ketimpangan yang luarbiasa. Seperti dikemukakan oleh The Club of Rome, 20% penduduk negara-negara maju mengkonsumir 80% SDA dunia. Sedangkan 80% penduduk negara-negara berkembang hanya mengkonsumir 20% SDA dunia. Apa sebab demikian ? inilah akibat system perekonomian liberalistic kapitalistik “profit maximization principle” yang berbeda dengan prinsip yang dianut oleh kebanyakan penduduk negara-negara berkembang, ialah prinsip kebutuhan sebagai “inner driving force” (lihat Yuyun Wirasasmita, 1999). Dengan perbedaan prinsip ini, SDA dari negara-negara berkembang menjadi terkuras habis, adapun implikasi dari ketentuan ini adalah bahwa bila negara-negara berkembang ingin mempertahankan keutuhan SDA mereka. Mereka pun harus serakah seperti orang-orang barat. Benarkah?

          Rusak , Kerusakan dunia kita , menurut pakar lingkungan (lihat Kruift, 1994) dimulai sejak abad pertama (kelahiran Nabi Isa a.s. atau kristus). Kerusakan ini membesar dan menguat setiap tahun, dan penghujung abad 20 kerusakan alam telah sangat menghawatirkan, yang dikatakan oleh Tarnas, semakin hari semakin menggawat. Adapun, menurut Mander Goldsmith (eds, 1996) Globalisasi dan “satu ekonomi dunia” yang datang bersamanya akan menjadikan kerusakan bumi semakin menghebat. Prinsip “Comparative advantage” menjadikan barang-barang harus didatangkan dari tempat-tempat yang ribuan mil jauhnya. Termasuk pangan. Hal mana akan meningkatkan polusi air, udar dan darat, hal mana kerusakan ekologi laut oleh pukat harimau, kecelakaan-kecelakaan pabrik insektisida di Bhopal ( India ), Bocornya reactor nuklir seperti di Chernobil (Rusia), kerusakan hutan yang dahsyat seperti di Indonesia dsb. Pendek kata, saya kira,  boleh khawatir oleh datang nya kiamat sebelum kiamat yang sebenarnya  terjadi.

          Mengapa resah , renggut, rusak itu semuanya terjadi dan terus menghebat ? bagaimana mekanismenya sehingga Sains Barat sekuler (SBS) yang canggih itu tak kuasa mencegahnya? Secara Epsitomologis kita akan melihat adanya kealpaan besar pada kemampuan SBS, ialah bahwa ia hanya mampu menghadapi kausalitasyang bersifat “co-extensive” (sebab dan akibat terjadi pada waktu yang sama. Namum tidak berdaya dalam menghadapi kausalitas yang bersifat “Sekuensial” (sebab yang akibatnya terjadi pada waktu belakangan setelah “a span of time”). Dua buah contoh dapat dikemukakan disini, ialah pada limbah CFC (Chloro fluoro-Carbon), dan pada toksisitas al dan fe dibidang pertanian yang merusak tanah dan menurunkan produksi. Limbah CFC yang memjadikan bolong-bolongnya lapisan ozon baru diketahui setelah terjadi akumulasi limbah itu didunia. Dan toksisitas al dan fe, dibidang pertanian diketahui hanya setelah 30 tahun digunakan pupuk-pupuk urea dan TSP dengan”overdosis”. Kedua contoh ini menunjukkan akibat dari akumulasi, atau akumulasi akibat yang bersifat “sekuensial”.

Sains Tauhidullah

          Herman Soewardi menyodorkan Sains yang Islami, sebagai alternatif terhadap Sains Barat Sekuler yang hampir kandas, karena landasannya adalah induktif empirical yang tidak layak dilanjutkan lagi karena adanya cacat besar dalam observasi sehubungan adanya “lensa” yang ada didepan mata,. Lensa inilah yang menyebabkan knowbilyty manusia rendah dalam mengobservasi jagat raya yang sebenarnya, jagat raya yang dipertanyakan manusia. Namun kini menguasai hajat hidup orang banyak dan dipuja puji sebagai agama baru yang bersifat sekuler, namun pada penghujung abad ke 20 Sains Barat Sekuler telah menuju ke 3-R (Resah, Renggut, Rusak)

          Ontologi dari Sains Tauhidulloh adalah  alur pikir lain dari yang ditempuh oleh SBM, ialah alur pikir yang  dipandu dan diridhoi oleh oleh  Allah SWT, sebagaimana dalam Quran surat Al-Alaq, ayat 5 “ Allah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya “   Maka karakteristik utama ST adalah “naqliah memandu aqliah” atau wahyu yang memandu fitrah atau akal manusia dalam menangkap rangsangan inderawi untuk mengungkap jagar raya yang merupakan Kalam Allah( maju menjadi “ Kalam” dari “qolam”) Ini berarti  bahwa observasi harus dipandu oleh Kalam Allah (“mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring”) 

  Akan tetapi dalam dalam konkritisasinya ST dihadapkan pada masalah teknis yang cukup besar bagaimana menggunakan wahyu sebagai pemandu observasi, yang merupakan asas ST. Dengan perkataan lain diperlukan kemampuan tafsir dari petunjuk Wahyu-wahyu sebagaimana yang tertera dalam Al-Quran . Dalam hali ini Arkoun telah memberi contoh  agar sampai pada “Kalam Allah” yang maknawiyah dari teks atau nash yang bersifat  harfiah. Selain contoh tafsir tematis sebagaimana yang diuraikan oleh Quraish Shihab , dan  tafsir kontektual sebagaimana diuraikan oleh Syed Qutub  (bersambung)

 

Daftar Pustaka

 

ARKOUN, MUHAMAD, 1994,  “Nalar Islami dan Nalar Modern ” : Berbagai  

              Tantangan dan Jalan Baru”, INIS, Jakarta

 

FROMM, ERIC, 1941, “Escape From Freedom ” Ballantine Books, USA

 

FROMM, ERIC, 1952, “ The Sane Society ”, Fowcett Premire, Holt Richard

              Winston, Kanada

 

KUHN, THOMAS, 1970,”The Structure of Scientifik Revolution ”, University

              Of Chicago Press, Chicago

 

SOEWARDI, HERMAN, 2000, “Mempersiapkan Kelahiran Sains Tauhidulloh

              Bandung

 

SOEWARDI, HERMAN. 1999, “ Roda Berputar Dinia bergulir” : Cognisi Baru

              Timbul tenggelamnnya Sivilisasi “ ,Bakti Mandiri, Bandung

 

SURIATMAJA, YUYUN, 1999, “ Filsafat ilmu Sebuah Pengantar popular “

              Pustaka Sinar  Harapan, Jakarta

 

TARNAS, RICHARD, 1993, “The Passion Of Western Mind ” Ballantine Books

              New York USA

 

WIRASASMITA, YUYUN, 1999”Aspek–aspek Ekonomi Mikro Perusahaan kecil

              Tradisional Keluarga, UNPAD, Bandung

Copyright © 2014 eki baihaki · All Rights Reserved